Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Ibrahim Datuk Tan Malaka selama dua dekade dalam pelarian politiknya. Menempuh jarak sekitar 89 ribu kilometer dan menggunakan 23 nama samaran, dunia mengenalnya sebagai sosok revolusioner yang tangguh. Namun, novel ini mengajak pembaca menelusuri lorong sunyi kehidupannya yang bak seorang sufi.
Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan asisten Lebak, Banten, abad 19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman sistem tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Diperas oleh kolonial Belanda…